BAM INDONESIA: DISKUSI MENYOAL NASIB GENERASI MUDA DI TENGAH COVID-19

JAKARTA-Minggu, 19 Juli 2020, melalui aplikasi zoom, Barisan Aktivis Muda Indonesia melakasanakan diskusi publik perdananya dengan mengangkat tema “Nasib Generasi Muda Sebagai Bonus Demografi di Tengah Pandemi Covid-19.

Dalam diskusi perdana ini, Barisan Aktivis Muda Indonesia mengundang tokoh-tokoh pemuda yang kompeten membicarakan “Nasib Generasi Muda Sebagai Bonus Demografi di Tengah Pandemi”. Diantaranya:
1. Farah Putri Nahlia, B.A., M.Sc (Anggota DPR RI 2019-2024)
2. Mohammad Faisal, Ph.D (Direktur CORE Indonesia)
3. Beni Pramula (Presiden Asia Aprika)
4. Respiratori Saddam AL-Jihad (Penulis Buku Pancasila Ideologi Dunia)

Farah Nahlia dalam pemaparannya menjelaskan pentingnya mempersiapkan sumberdaya manusia yang unggul dalam menanggapi bonus demografi

“Bonus demografi adalah peluang emas jika dipersiapkan dari sekarang, tetapi bisa menjadi masalah besar jika tidak dipersiapkan dengan matang. Salah satu usaha yang perlu dibekali untuk generasi muda kita adalah kemampuan menggunakan teknologi atau literasi teknologi. Kemampuan menggunakan teknologi menjadi penting karna di zaman modern ini hampir semua lini kehidupan berbasis teknologi”, Tegasnya

Senada dengan Farah, Mohammad Faisal selaku Direktur Eksekutif CORE Indonesia menegaskan bahwa Bonus Demografi dalam satu sisi menjadi peluang emas untuk kemajuan Ekonomi, tetapi dalam sisi lain jika tidak di kelola dengan baik di tengah Pandemi ini justru akan melahirkan berbagai permasalahan.

“Resesi ekonomi sudah di depan mata. Prediksi ekonomi Indonesia akibat terdampak covid-19 akan negatif atau menurun drastis. Memang bonus demografi bisa jadi peluang emas, tetapi pemuda mengalami masalah cukup kompleks, diantara masalahnya adalah pengangguran dan kemiskinan” Ujarnya.

Beni Pramula selaku Presiden Pemuda Asia Afrika menegaskan pentingnya kehadiran wadah perjuangan bagi anak-anak muda.

“Faktanya kita tidak bisa mengikuti sistem yang di bangun oleh orang-orang tua yang hari ini menjadi elit politik dan oligarki, sebab mereka hanya memikirkan nasib keturunannya saja. Maka dari itu kita membutuhkan wadah penggerak kepemudaan sebagai antitesa dari ketidak berpihakan pemerintah kepada generasi muda” Tegasnya

Penulis Buku Pancasila Ideologi Dunia, Saddam Al-Jihad mengatakan pentingnya pengimplementasian nilai-nilai pancasila bagi anak muda yang semakin kesini semakin memudar.

“Berbicara soal bonus demografi bukan saja berbicara soal pentingnya ekonomi dan pendapatan negara, tetapi, bagaimana kemudian nilai-nilai pancasila ini bisa benar-benar diimplementasikan dengan lebih baik lagi. Pancasila yang merupakan kesepakatan pendiri bangsa itu sebetulnya bekal kita dalam menjawab tantangan bonus demografi”, Ujarnya.

(*)