Mayoritas Masyarakat Sebut Ekonomi Indonesia Memburuk Akibat Terdampak Pandemi Covid-19

Salah satu warga berfoto melakukan proses pengambilan Bantuan Sosial Tunai (BST) di Kantor Pos Merdeka Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2020). Sekitar 15.000 Kepala Keluarga (KK) di Kota Palembang menerima Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial (Kemensos). ANTARA FOTO/Feny Selly/foc.

Salah satu warga berfoto melakukan proses pengambilan Bantuan Sosial Tunai (BST) di Kantor Pos Merdeka Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2020). Sekitar 15.000 Kepala Keluarga (KK) di Kota Palembang menerima Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial (Kemensos). ANTARA FOTO/Feny Selly/foc.

JAKARTA– Mayoritas masyarakat mengakui ekonomi Indonesia memburuk akibat pandemi virus corona. Hal ini tercermin dari hasil survei ‘Evaluasi Publik terhadap Penanganan Covid-19, Kinerja Ekonomi dan Implikasi Politiknya’ yang dilakukan Indikator Politik Indonesia.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menyatakan 81 persen dari 1.200 responden menyatakan keadaan ekonomi memburuk. Terdapat 57,6 persen responden mengatakan kondisi ekonomi buruk dan 23,4 persen responden mengatakan sangat buruk. Sementara hanya 1,2 persen responden yang menyebut kondisi ekonomi sangat baik, 5,5 persen baik dan 8,9 persen sedang serta 3,4 persen responden mengatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

“Mayoritas masyarakat menilai buruk 57,6 persen dan sangat buruk 23,4 persen terkait perekonomian Indonesia,” kata Burhanuddin dalam rilis hasil survei melalui konferensi video, Minggu (7/6/2020).

Tak hanya kondisi ekonomi nasional, mayoritas masyarakat menyebut kondisi ekonomi rumah tangga pun dalam kondisi memburuk dibanding sebelum pandemi virus corona. Terdapat 65,4 persen responden yang menyebut kondisi ekonomi rumah tangga lebih buruk. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding survei Indikator yang dilakukan pada Februari 2020 atau sebelum pandemi corona, yakni 20,9 persen.

Selain itu, terdapat 18,3 persen responden yang menyebut kondisi ekonomi rumah tangga lebih buruk. Padahal dalam survei pada Februari 2020 atau sebelum terjadi pandemi hanya 1,1 persen responden yang menyebut kondisi ekonomi rumah tangga lebih buruk.

Sementara, hanya 11,4 persen responden yang menyebut kondisi ekonomi rumah tangga tidak mengalami perubahan atau menurun dibanding pada survei pada Februari yakni sebanyak 34,9 persen responden. Sementara hanya 2,4 persen responden yang menyebut kondisi ekonomi rumah tangga membaik atau menurun jauh dibanding sebelum pandemi yakni sebanyak 38,9 persen dan hanya 1,6 persen responden yang menyebut kondisi ekonomi rumah tangga jauh lebih baik atau turun dibanding tiga bulan sebelumnya yakni sebanyak 3,9 persen responden.

“Dalam tiga bulan terakhir mayoritas publik menilai kondisi ekonomi rumah tangga lebih buruk ketimbang setahun
sebelumnya, 83.7 persen,” kata Burhanuddin.

Mayoritas masyarakat saat ini juga menyebut pendapatan kotor rumah tangga saat ini menurun. Terdapat 86 persen responden yang mengaku pendapatan kotor rumah tangganya menurun. Dalam tiga bulan terakhir, masyarakat yang menyebut pendapatan rumah tangga ‘menurun’ ini mengalami tren peningkatan yang tajam dari 41 persen pada bulan Maret 2020.

Sementara, responden yang menyebut pendapatannya ‘tetap’ justru mengalami tren menurun dari 54 persen responden pada bulan Maret menjadi 13 persen pada bulan Mei.

“Penurunan ini dirasakan cukup merata di semua kategori sosio-demografis. Akan tetapi, berdasar pendidikan tampak pola yang menunjukkan bahwa warga berpendidikan SLTA ke bawah lebih banyak yang merasakan penurunan, sementara warga berpendidikan tinggi lebih sedikit merasakan penurunan,” katanya.

Sampel dalam survei melalui telepon ini sebanyak 1.200 responden yang dipilih secara acak dari kumpulan sampel survei tatap muka langsung yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020. Dari sebanyak 206.983 responden yang terdistribusi secara acak di seluruh Indonesia yang pernah diwawancarai secara tatap muka langsung dalam rentang dua tahun terakhir, secara rata-rata, sekitar 70% di antaranya memiliki nomor telepon.

Jumlah sampel yang dipilih secara acak untuk ditelpon sebanyak 5.408 data, dan yang berhasil diwawancarai dalam durasi survei yaitu sebanyak 1.200 responden. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error) sekitar ±2.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional. (*)

Sumber: Beritasatu.com