Dampak COVID-19 Menurunkan Manajemen Pasiva Bank Syariah

Pada akhir 2019, coronavirus baru (Covid-19) muncul di provinsi Wuhan Hubei, Cina. Penyebaran virus corona makin cepat hingga masuk ke Negara Indonesia hingga mengakibatkan banyak korban jiwa.

Covid-19 ini memberikan dampak yang sangat besar pada semua lini kehidupan, pada Sosial misalnya seperti: terjadi isolasi di berbagai Kota sehingga terhambatnya mobilitas penduduk, lockdown, dan kelangkaan masker karena beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab sengaja menimbun masker untuk dijual dengan harga berkali-kali lipat. Sedangkan, dampak pada Ekonomi yang ditimbulkan Covid-19 di Indonesia seperti: impor Indonesia dari cina terganggu, ekonomi pariwisata Indonesia melemah dan krisis ekonomi di Indonesia.

Selain berdampak pada sosial dan ekonomi Covid-19 juga berdampak pada industri perbankan di Indonesia, menimbulkan risiko seperti penyaluran kredit, penurunan kualitas aset dan pengetatan margin bunga bersih. Covid-19 juga telah mempengaruhi manajemen pasiva Bank Syariah dimana usaha untuk mendapatkan dana untuk memenuhi kebutuhan operasional bank, baik melalui penghimpunan dana pihak ketiga (masyarakat), dana pihak kedua (pasar uang atau pasar modal) maupun dari pihak pertama (pemilik) menjadi sangat terganggu.

Dengan diberlakukannya lockdown di setiap daerah di Indonesia, nasabah yang ingin menabung akan mengalami kesulitan terutama para orang tua yang tidak mengerti penggunaan M-banking. Selain itu juga berdampak pada dana yang biasanya di dapatkan dari pihak kedua dimana pembelian saham, obligasi atau reksadana menjadi menurun dikarenakan sektor ekonomi yang tidak stabil, banyak bisnis yang tidak beroperasi meningkatkan gagal bayar pembiayaan bank, serta investor pasar modal terbang ke asset yang lebih aman (flight to safety).

Bahkan banyak sasaran manajemen pasiva yang tidak tepat karena tidak dapat dijalankan dengan baik, sehingga secara tidak langsung berdampak juga pada sumber-sumber dana yang akan diperoleh Bank Syariah, belum lagi jika dampak dari pandemi Covid-19 ini mengharuskan masyarakat untuk Work From Home atau diliburkan, membuat masyarakat yang tidak memiliki penghasilan akibat diliburkan akan mengambil tabungan untuk keperluan hidupnya. Jika pandemi Covid-19 ini berlangsung terus menerus tidak menutup kemungkinan banyak BankĀ  Syariah, yang mengalami kekurangan sumber dana dan manajemen pasiva Bank Syariah tidak berjalan dengan baik yang mengakibatkan bank tidak dapat memenuhi kewajibannya pada nasabah dan BI serta bisa juga mengalami kerugian.

Sehingga menurut saya sebaiknya Bank Syariah pada kondisi saat ini harus lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio pembiayaan eksisting dan melakukan ekspansi, agar dapat meminimalisir risiko-risiko yang ditimbulkan oleh Covid-19 yang mungkin akan terjadi di masa mendatang.

Nama : Ratih Purnama Sari
NPM : 1751020186
Prodi : Perbankan Syariah C
Dosen : Muhammad Iqbal Fasa.