Nenek di Lampung Tengah yang Diusir Putrinya, Terpaksa Menumpang di Rumah Kadus

WAY PENGUBUAN – Sarah (60), warga Dusun Tanjung Mulia, Kampung Tanjung Ratu Ilir, Kecamatan Way Pengubuan, Lampung Tengah, mengalami nasib tragis.

Karena dianggap merepotkan keluarga, Sarah akhirnya harus hidup seorang diri.

Ia mengaku diusir oleh anak perempuannya, sejak beberapa bulan lalu. 

Bahkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, nenek renta tersebut harus mengharapkan belas kasih dari warga.

“Kita melakukan koordinasi dengan Forkopimcam melalui Bhabinkamtibmas, kepala dusun, dan kepala kampung. Kita menginisiasi pembangunan rumah untuk Nenek Sarah,” kata Widodo Rahayu.

Setelah mengumpulkan dana dari para donatur, akhirnya diputuskan untuk membangun rumah di Dusun Tanjung Mulia.

Rumah tersebut dibangun dengan menggunakan dinding kayu dan lantai semen.

“Pembangunannya sudah berjalan dan sudah bisa ditempati oleh Ibu Sarah.”

“Kami juga terima kasih kepada warga yang sudah melakukan kerja bakti untuk pembangunannya,” ujar Widodo Rahayu.

Sarah pun bersyukur bisa memiliki rumah untuk menaunginya dari panas dan hujan.

Sembari meneteskan air mata, ia mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan.

Sarah mengaku tak tahu harus tinggal di mana setelah diusir anaknya.

“Kepada semua warga yang hadir, walaupun tanahnya numpang, mudah- mudahan Allah SWT membalas kebaikan Bapak-bapak semua,” ujar Sarah sambil menyeka air mata yang meleleh di pipinya.

Nenek diusir saat kunjungi rumah anaknya

Sebelumnya, seorang nenek mengalami nasib memilukan saat mengunjungi rumah anaknya.

Alih-alih disambut, sang nenek diusir anak kandungnya saat tiba di rumah si anak.

Nasib memilukan itu dialami seorang nenek asal Jember, Jawa Timur.

Kekecewaan mendalam pun dirasakannya ketika anak kandung tega mengusirnya, saat ia berkunjung ke rumah sang anak.

Melansir dari Tribun Sumsel, Selasa (10/9/2019), nenek itu datang jauh-jauh dari Jember ke Bali.

Ia khusus pergi ke Bali untuk mengunjungi anaknya.

Hal tersebut ia lakukan karena sudah tak tahan rindu ingin bertemu dengan anaknya.

Namun nahas, ketika sampai di rumah anaknya di Bali, sang nenek diusir anak kandungnya.

Entah apa yang ada di pikiran sang anak, tanpa rasa belas kasih, ia bertindak layaknya anak durhaka.

Kisah pilu sang nenek diusir anak kandung ramai diperbincangkan di media sosial.

Kisah itu juga membuag heboh jagat maya.

Kisah tersebut tertuang dalam video yang diunggah akun Facebook Yuni Rusmini di platform Facebook.

Selain itu, video nenek itu juga diunggah oleh akun Instagram @ndorobeii pada Selasa (10/9/2019).

Dalam video viral yang beredar, sang nenek tampak memakai pakaian sederhana.

Ia terlihat tak kuat menahan tangisnya.

Dalam video viral itu, ia tampak tengah singgah di warung makan pinggir jalan.

Dengan rasa sakit yang amat dalam, dan raut wajah sedihnya, sang nenek mencurahkan rasa sakit hatinya kepada sang pemilik warung.
Dalam video itu, beberapa orang pengunjung warung tampak ikut mendengarkan unek-uneknya.

Nenek itu berbicara menggunakan bahasa Jawa.

Beberapa kali, raut sedih terlihat dari wajahnya.

Ia mengaku sengaja jauh-jauh menempuh perjalanan dari Jember ke Bali.

Hal itu demi melepas rasa rindu kepada anaknya.

Namun ketika bertemu, sang nenek justru mendapatkan perlakuan buruk dari anak kandungnya itu.

Parahnya, ia bahkan diusir dari rumah anaknya di Bali.

Terkejut dan tak menyangka dengan sikap kasar anaknya, ia akhirnya memilih untuk kembali pulang ke Jember.

Sebelumnya diketahui, nenek itu juga membawakan oleh-oleh kerupuk.

Oleh-oleh itu dibawanya dalam kardus untuk sang anak.

Ia juga mengatakan bahwa kedatangannya ke Bali bukan bermaksud untuk meminta-minta atau merengek kepada sang anak.

Ia melakukan hal itu semata-mata karena sudah tak kuat menahan rasa rindu ingin bertemu.

Meski sudah menerima perlakuan kasar anaknya, nenek itu tetap mendoakan anaknya.

Ia berharap anaknya agar kembali mengingat dirinya sebagai ibu.

Cerita pahit sang nenek pun membuat banyak warganet geram.

Sebagaian warganet mengaku ikut kesal.

Namun, mereka tetap mendoakan nenek itu agar selalu diberi ketabahan dan kesehatan.

Video nenek diusir anak kandungnya itu juga sudah dibagikan ribuan kali oleh para pengguna media sosial.

2 nenek tinggal bersama kambing

Sepasang lansia yang merupakan kakak beradik tinggal bersama kambing di Kampung Krajan Pawanda, Desa Medangasem, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Namanya Uka dan Icih. Nenek-nenek berusia 70-an tahun itu tinggal hanya berdua.

Mereka tak lagi punya sanak saudara.

Mereka menggantungkan hidup dari memelihara kambing.

Belasan kambing itu pun bukan milik mereka.

Mereka hanya buruh.

“Kalau dijual, dapat upah dari yang punya,” ujar Icih kepada Kompas.com, Sabtu (7/9/2109).

Nahas, baru-baru ini uang sebesar Rp 300.000 hasil upah penjualan kambing hilang.

Padahal, uang itu akan digunakan untuk membeli beras, obat nyamuk, dan kebutuhan lain.

Obat nyamuk bagi keduanya sudah selayaknya kebutuhan pokok.

Sebab, jika malam banyak nyamuk berseliweran di dalam rumah mereka yang juga diisi kambing.

“Kalau malam sering tidak bisa tidur. Apalagi sedang batuk seperti ini,” kata Icih.

Setiap pagi, mereka harus menyapu kotoran kambing di rumah mereka.

Rumah dari bilik bambu itu terdiri dari dua ruangan.

Ruangan luar untuk kandang kambing.

Pantauan Kompas.com, di ruangan itu juga terdapat dua dipan kayu yang terdapat sisa-sisa kotoran kambing.

Ada bau kotoran kambing yang menyengat.

Sementara, ruangan dalam untuk tidur mereka berdua.

Ruang tidur terdapat dua dipan.

Satu untuk tidur Uka dan satu untuk tidur Icih.

Tak ada pintu antara ruang untuk kambing dan ruang tidur.

“Kalau tidur ya begini saja, enggak pakai kasur. Kadang-kadang kambing juga masuk ke dalam (ruang tidur),” kata Icih.

Rumah yang mereka tempati itu juga tak layak.

Bilik bambu rumah itu sudah jebol.

Untuk memasak pun harus di luar rumah untuk menghindari kebakaran.

“Kalau memasak di depan,” kata dia.

Awalnya, rumah mereka ada dua. Satu untuk Icih dan satu untuk Uka.

Namun, mereka memilih tinggal berdua di rumah belakang, rumah yang saat ini mereka tempati.

Meski keadaan mereka kurang layak, Icih menyebut, ia dan kakaknya tak pernah mendapat bantuan beras, bantuan program keluarga harapan (PKH), dan bantuan lain dari pemerintah.

“Enggak ada bantuan dari pemerintah,” kata Icih.

Meski demikian, ia mengaku ada beberapa warga yang berbaik hati mengulurkan tangan.

Terlebih setelah kondisi kehidupan keduanya tersebar di media sosial.

“Tadi ada yang datang, ngasih beras,” kata Icih.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukinan (PRKP) Karawang Ramon Wibawa Laksana mengatakan, pihaknya akan memprioritaskan pembangunan rumah layak huni (rulahu).

Dinas PRKP akan membantu kedua lansia tersebut agar mendapat rumah layak huni.

Setidaknya, kedua lansia tak perlu lagi serumah dengan kambing.

“Jika tanahnya milik sendiri, saya sudah minta camat untuk segera diajukan (rulahu),” kata Ramon. Dilansir: (Tribunlampung.co.id/Syamsir Alam)